Blogger templates

Kutemukan dirimu di ujung pencarianku, Geulis..., Taya niat akang salian seja Ngabagjakeun Salira, Akang nganti Salira di Tatar Pasundan. Pulanglah sayang...!!!. Teuteup potret nu aya, antebkeun rasa ngawang-ngawang, Galih kasono pangubar rasa nu kumacacang , Riwayat urang mangsana pinuh kabungahan lan kabagjaan . Junjunan...Urang Tumiba dina Bagja salawasna. _/\_

Sabtu, 27 April 2013

TERUNTUK PAGIMU

Teruntuk pagimu yang terlelap di sana
malam masih membuai mu dalam timangannya
alunan lembut angin juga masih membelaimu
nyenyaklah dalam pangkuan malam
terserahlah demi citamu
hari bertemu hilang

kita harus berdiskusi
saat kau terbangun di pagi ini
tentang mentari, 
tentang awan, 
tentang hujan..
dan
tentang "KITA"

AKSARA BIRU

Hening,, 

burung malam pun seolah tertidur oleh belai angin
Malam menjadi lebih dingin dari biasanya..
Dan Mata ku menjadi lebih kuat dari biasanya..

Tak sabar menunggu sebuah masa..
saat pagi menjadi dekat dan bisa kudekap..
Hening,, hanya ada bunyi ketukan akibat keyboard dan jemariku sedang sibuk beradu..

Sebab hari ini
Yah... menjelang pagi ini
adalah pagi yang meneruskan spasi Catatan kecil ini,
menambah narasi kidung asmarandana
kidung yang penghujung syairnya belum terbang
menemui tinta biruku disini

~pagi masih setia menungu aksara yang kau bawa dan tiba di landasan Garuda

HELAI KEANGGUNAN TETAPKAH MENGABUT (catatan tambahan 28 April 2013)

Bukan aku jika tidak gila. Bukan cintaku jika ia baik-baik saja.
Mencurah inginmu pada seutas malam
Atau mencela cahaya dalam hatimu
yang membuka telanjangmu, 
yang membuat terkulai hatimu
demi helai keanggunan
citamu melebihi cintamu

Jika kusebut itu,
apa kau mendengarnya?
Apa terasa getarannya hingga ujung rasamu?

Aku masih belum menemukan ide paling tepat 

untuk kuceritakan tentang kita di malam ini, 
karena senja sudah berlalu di menit terakhir hari perencanaan
hari ini yang pernah dikabarkan 

sebagai hari kehidupan cita dan cinta kita,
Dan nonsense
waktu mendentum mengitari dunia tak putus
Jarum jam masih mendenting di arloji usang ini
Membaca cakrawala di setiap denyut nadinya
menandai misteri kita masih berkepanjangan

Aku masih belum menemukan cara 

bagaimana menyatukan puluhan cerita 
yang telah tercipta akibat dari yang kita ciptakan,
Menapak, nampak terhubung, tapi tak tercairkan
Imaji demi imaji terkumpul laksa skenario yang siap difilmkan
Namun masih menjadi diksi yang misteri
Membiru kaku dalam bungkam
Seperti puzzle yang tak pernah terpecahkan
Menganggun di antara keanggunan,
di antaranya
Aku dan kehidupanku,
aku dan impianku,
aku dan harapanku,
aku dan mimpiku
Bukan aku jika tanpa kamu

Rezim impian bahkan masih tersusun rapi di tempatnya
kan kutinggalkan untuk kuwujudkan bersama waktu
bila hari ini masih belum sepakat kita membuka tabir misteri yang kita buat
masih selalu kubaca aksaranya tanpa mengenal waktu
untuk menghubungkan menjadi narasi bila memang kita sudah sepakat membuka tabir biru

Entah diksi apa yang menggelayuti imajimu kini
Terjelas
Semua masih sama
meski ketika bangun
tersadarlah bahwa hari ini tidak lagi sama
kupikir hari ini akan menjadi hari akhir cerita maya
menguakkan segalanya yang kita simpan

Berlari dalam kenaifan
Mencari,
mencari,
dan terus mencari
mencari awal apa untuk cerita hal kita
Ternyata nyata yang tidak ada
Lalu kututup dengan mungkin belum saatnya
belum waktunya kita buka segalanya

~28 april 2013, jadi catatan tambahan dari catatan kecil yang ku buat mengenai hal kita
semoga kau baik-baik saja, ku masih pria yang sejiwa denganmu, dan masih seperti yang kau impikan sejak dulu,.
salam santun selalu untukmu. Rahayu _/\_

BATAS HARI


Antara angin di malam ini
gemuruh menyelusup lirih
menerjang
meneror
mengejar
memaksa
dan memerkosa rasa
perasaan
harapan
yang telah kukaitkan
pada batas senja tadi
yang telah ku lindungi
dengan ragaku

Bayanganku
menghilang
ditelan gelap malam
menjemput sang pujaan
di hari yang kau sebutkan
namun tak ada kabar
sampai hari ini menjelang malam

Kamis, 25 April 2013

ALAM KADEWATAAN (Tirani Kehidupan)


Sweta Dwipa mempengaruhi rotasi Jiwa
Keturunan Dewa menapaki Bumi
menarik simpati dan perhatian Dewi - Dewi Kahyangan
memenuhi marcapada membawa Bijak
Jawa Dwipa agung gunung Ageung
Lambang Kahyangan dimensi Alam
menyempurnakan bumi dengan Daya dan keluhungan

Swargaloka sang Hyang Jagat Nata
ratunya Jagat Raya mendamping Mahadewa
Swargaloka dibuat jaya Budaya
Ngejowantah
mewujud
cahaya menampakkan Diri
kenyataan sejati anugerah Gusti Hyang Widi

Jagat ini memisahkan kehidupan sukma
yang berasal dari kehidupan Raga alam keDewataan
menjadi sempurna menyatu dalam wujud Manusa
Langgeng,
abadi,
Hakiki
menutup semua jawaban
Bagi yang mencari
Ajining Cipta
ajining Rasa
Ajining Karsa
Menembus batas angin
Menerbos batas Hyang
Membuka Tirai Malam
Bermunajada kepada Gusti Murbeng Alam
Ahung tanpa batasan...!

Rabu, 24 April 2013

Sajak Purnama-ku


Aku dalam diri bingkai dua jiwa,
menyandang baluran puja dari cela,
yang jujur,
yang terkabut luka,
yang tertulis,
dari suratan cinta,

di Purnama ini
Purnama yang rapuh terlukis dalam cermin cahayanya
ketika kutitipkan rasa pada kupu-kupu yang bersemayam di hatimu
hingga membuat bibirku ingin mengecup pipi ranummu
rindu pun menjelma sajak bergulungan dalam ruang hati

setumpuk rasa ini menggulung,
menggema,
menyebut namamu bak gemuruh ombak yang kubaca dari getar bibirmu
sajak purnama tlah rapuh terlukis dalam cahayanya
menjelma bayang bayang retak
tapi nafas ini masih sempurna
berhembus dan berdetak merajut sebuah nama
namamu yang jauh disana
nama yang tersimpan
yang harum terselip sepi
pelita asa menyala hidup dan mati
tetap menyala dalam buaian pesisir
di antara sajak-sajak satir

dan purnama pun bersenandungkan sajak getir

~di purnama ini rindu menghenyakan kalbuku

FHOTO: Fashion of Sondaica

Riwayat Tirani Rindu-Ku


Aku hilang dalam terang
hingga malam larut kelam
Aku bingung dalam senang
hingga pagi larut siang
Aku lelap dalam semangat
yang tergulung di gelombang Zaman

Apakah ini riwayatku?
Aku masih bingung!
Hingga tanah kelahiranku tak lagi ramah
Sebab aku belum tahu riwayatku

Dimanakah letak jejak pendahuluku
untuk kubaca sebagai sebab diriku?
Aku coba bertanya pada laut,
apakah kau yang tercantum namanya dalam silsilah bumi?
Ternyata ia hanya tersenyum padaku
bersama suara angin berdebur ombak
Aku bertanya pada awan,
namun ia semakin menebal,
menghitam penuhi jarak pandangku
hingga aku tak lagi mampu membaca isyarat itu
Aku coba bertanya kembali pada rembulan,
apakah kau yang pernah menimang bayi ini, dikala bumi masih dini?
Tapi ia telah dipinang oleh malam yang petang
hingga mataku terasa silau menagkap sinar kepastian

Lalu kepada siapa lagi
aku harus bertanya?!!
atau kusebut saja riwayat ini Riwayat tanpa tapak

hingga sajak Rindu tercipta di Lorong Cahaya

"Angin,
air,
tanah,
dan api semua menyatu
membeku dalam rindu
dalam bingkai masa lalu
Aku kembali belajar pada sunyi
tentang sebuah kepercayaan
serta laju waktu yang tak mampu ku kejar

Di lorong ini terdengar tangis rindu
sedih.....!!!!???,
terdenting kidung duka di kaki senja
mengiris hati mengalir sedih
menuai tangis ditelan waktu
dalam catatan yang tak sempat terangkum
Sebab aroma wangi telah kandas tertiup angin
terbang memenuhi istana biru
Terpaksa aku sendiri
menahan luka setengah diri,
dan belajar kembali
pada purnama,
meski matahari telah redup

Tirani rindu ini belum pernah aku dendangkan
Tirani rindu ini belum pernah ku bacakan pada yang tersayang
ada sebuah gelombang jarak
yang akhirnya
Menyeret kehadiranku di lorong ini

Pertemuan hilang dari genggamanku
Sementara sebongkah rindu dihatiku
masih belum sirna oleh cahaya bintangmu
Dedaunan masih kering pada ranting-ranting yang menalar
antara rindu dan cinta yang menggebu

inikah skenario langit yang menyutradarai langkahku!!??
Langkahnya!!??
Langkah Kita!!??
Langkah Cinta!!??
Sayangnya aku percaya itu "